Tuesday, September 25, 2018

Berhijab Bukanlah Pilihan

 بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ



Bismillah...
Assalamua'laikum warahmatullahi wabarokaatuh.
             Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita berbagai nikmat dimana air di lautan pun tak kan cukup jika kita ingin menulis nikmat-Nya itu. khususnya  nikmat islam yang Allah berikan kepada diri-diri kita dan nikmat iman yang masih ada dalam hati kita. Salam serta shalawat kepada junjungan  Nabi kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi wasallam yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah hingga kepada zaman Islamiyah dimana seperti yang kita rasakan sekarang ini. 
      Para pembaca muslimah yang dirahmati oleh Allah subahanahu wa ta'ala, kali ini kita akan membahas sedikit tentang masalah hijab.
         Dan tentunya tulisan ini teruntuk semua saudari muslimah yang berniat memakai hijab, yang masih ragu-ragu, atau pun yang belum memakai hijbab sama sekali serta untuk muslimah yang maasyalaAllah Alhamdulillah sudah memakai hijab agar lebih termotivasi dan istiqomah dalam mengenakannya. (tidak melepasnya lagi).Terlebih kepada diri pribadi.
sebelum lebih jauh, First, kita harus tau, apa sih pengertian hijab itu? lalu apa bedanya antara hijab dengan jilbab? let's check it out.
para mufassir memaknai jilbab dengan banyak makna. ada yang memaknai jilbab sebagai pakaian luar, kemudian menggunakan pakaian lagi dengan menutup seluruh tubuh, ada yang sampai menutupi semuanya hingga yang terlihat hanya matanya. ada juga yang memaknai jilbab sebagai khimar atau kerudung.
kemudian kalau hijab, dalam Al-qur'an di maknai sebagai konsep pembatas ruang, sebagai pembatas antara ahli surga dan ahli neraka. Hijab juga di artikan sebagai pembatas atau pembeda ruang antara laki-laki dan perempuan.
    Nah dengan mengetahui makna asli Hijab dan Jilbab sesuai yang disebutkan dalam Al-qur'an beserta tafsirnya, maka Hijab dan Jilbab adalah dua konsep yang sedikit berbeda. 
Namun saat ini secara realitas dan sosiologis, kita menggap konsep hijab dan jilbab adalah dua hal yang sama, mengingat salah satu pengertian dari hijab adalah menghalangi atau menutupi . lagipula kata hijab sudah memaknai secara keseluruhan.
    Dalam pandangan masyarakat, mereka berpendapat bahwa hijab harus disesuaikan dengan akhlak dan wanita yang berhijab adalah identik tatakrama yang baik, santun, anggun dan kalem serta predikat keshalihan lainnya.
Akhirnya jika wanita melakukan suatu perbuatan yang kontradiktif dengan hijabnya itu, seketika penilaian masyarakat menjadi negatif, selanjutnya dengan membawa-bawa kain penutupnya itu. "dia berhijab tapi kok masih gitu". 
Akibtnya, muslimah yang tak berhijab pun memilih untuk tetap pada pendiriannya, dengan pemikiran yang sangat sederhana sekali >"biarlah saya tidak berhijab dulu, yang penting adalah akhlak saya baik" ataukah   
 "yah adalah saatnya nanti saya berhijab". atau kah
 "yang penting hati dulu yang dihijabi" 
 Akhlak bukanlah suatu alasan untuk tidak berhijab. terlebih lagi hijab dan Akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab adalah murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslimah yang telah baligh tanpa memandang akhlaqnya baik atau buruk, sedangkan akhlaq adalah budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berhijbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karna jilbabnya namun karna akhlaqnya.
 "Yang berjilbab belum tentu berakhlaq mulia, namun yang berakhlaq mulia pasti berjilbab" 
Saya sangat setuju dengan kata-kata tersebut, bukan berarti saya mendukung para wanita yang berjilbab untuk tidak berakhlaq mulia ya :D cuman sudah menjadi rahasia umum pemikiran manusia-manusia yang merasa dirinya sudah paling benar bahwa jikala melihat wanita yang berjilbab namun akhlaqnya kurang baik beranggapan wanita itu menggunakan jilbabnya untuk menutupi kelakuan buruknya. Na'uzubillah... 
Kemudian adakah hati yang dihijabi? Lalu bagaimana kita akan mendapat petunjuk/hidayah dari Allah jika hati kita tutupi? Ini adalah pemahaman yang umum dan salah kaprah. 
Tak sedikit yang berharap hidayah itu datang menyapa. Namun terkadang kita hanya tidak sadar untuk menyikapi hidayah itu. Sebenarnya hidup kita itu dipenuhi oleh berbagai macam sinyal-sinyal hidayah. Allah datangkan sinyal-sinyal itu dalam berbagai macam cara, hanya saja kita saja yang menolak hidayah itu. Contoh sederhananya gini, ceramah-ceramah pendek dalam instagram, wa, berada di tengah-tengah teman atau saudara kita yang berhijab yang apabila kita melepas jilbab di tempat yang tak sesuai pun ia tak enggan dalam menegur dan menasehati. hidayah dalam perihal sholat: rumah berada dekat dengan mesjid namun tetap saja ia enggan dalam melaksanakan sholat, nyaringnya adzan setiap masuk waktu sholat.
 kemudian melihat jenazah yang melewati kita, melihat semangat para ulama. 
Lalu hidayah yang bagaimana lagi yang kita cari? Apakah semua itu bukan hidayah? inilah yang saya maksud menolak hidayah. bahkan tak perlu lagi mengeluarkan keringat dalam mencarinya. tinggal bagaimana kita menangkap sinyal hidayah itu. Ibarat cahaya, cahaya akan masuk ke dalam rumah jika jendelanya di buka. 
perintah berhijab ini sudah ada dalam Al-qur'an, jadi jelas apabila kita menunda-nunda dalam memakai hijab, berarti kesimpulannya secara tidak langsung kita sudah menolak Al-qur'an. Berikut penjelasannya 🔻
 Al-ahzab: 59
       " wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali dan karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha pengampun."
jadi jelas, jilbab itu murni langsung perintah dari Allah. Tak Jarang pula yang bilang gini, 
" saya memilih untuk berjilbab"
atau " Artis Vebby Palwinta memilih untuk berjilbab yah sekarang"
ya Allah ya Kareem,, sekali lagi jilbab bukanlah suatu pilihan mau pake atau tidak, ini wajib perintah Allah.  terus terang sih rasanya risih mendengar kata "memilih" itu...
kitanya aja yang ngajinya belum sampai pada surah Al-ahzab di atas...
Saudariku, Allah menurunkan perintah untuk berhijab semata-mata karena ada hikmah di balik itu. Allah menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan semata.
sering saya dengar, Islam mengekang wanitanya dalam berhijab. tidak, itu tidak benar. Bahkan islam sangat memuliakan kaum wanita layaknya seorang ratu.
Misalnya jika seseorang menemukan dua buah permen di jalan, permen I adalah permen yang masih terbungkus dan tertutup rapat tanpa ada celah. Permen II adalah permen yang sudah terbuka dikerumuni oleh semut. tentunya tanpa berfikir lagi, ia akan memilih permen I yang masih tersegel. lagian siapa sih gitu loh yang mau makan permen yang dikerumuni banyak semut. 

Perlu kita sadari satu hal, keadaan kita yang sering beramal  sholeh, mengerjakan sholat tanpa bolong-bolong, selalu membantu sesama, bersedekah, juga terkadang sudah mengaku berbakti kepada orang tua kita, patuh kepadanya, atau mengirimkan uang setiap bulannya, adalah seperti seseorang yang membawa kendi yang penuh dengan air, tapi sayangnya kendi itu memiliki satu saja lubang yang membuat air itu terbuang sia-sia... begitulah kira-kira ibarat seorang wanita yang sia-sia pengamalannya, kenapa? karena ia tidak berhijab. Mungkin sering kita dengar atau membacanya bahwa di akhirat nanti yang paling banyak dari penghuni neraka adalah wanita. nah mungkin itulah alasannya. Tsumma naudzubillah mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya....

Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengatakan 
"hatiku masih belum mantap untuk berjilbab, jika hatiku sudah mantap aku akan memakainya, lagi pula aku masih mengerjakan sholat, puasa, dan semua perintah wajib kok, Iman kan letaknya di hati, yang tau hati seseorang hanya aku dan Allah, aku kan masih muda, hijab bikin rambut rontok, berhijab bikin gerah panas pula, hijab itu ribet. Hijbab itu pilihan, siapa yang mau make, ya silahkan, yang penting akhlak dulu yang bagus, "sepertinya Allah belum memberikan hidayah untuk segera berhijab... dan alasan lainnya...."
Hijab tak perlu menunggu kesiapan ataupun hidayah. Buang jauh-jauh semua statement itu yah, semua udah dijelasin.

Mulai  sekarang untuk teman-teman muslimah yang saya cintai dan perhatikan karena Allah, saya jadikan anda saudari dalam kehidupan dunia dan akherat, saya mohon kepada anda dan semoga Allah menyaksikan ini,   ayo  hadirkan niat dalam diri kita untuk mengenakan kain yang mulia itu secara bertahap.. Niatkan karena Allah bukan karena teman kita, bukan karena akhlak yang masih buruk, melainkan karena murni perintah dari Allah.
jangan sampai anda kenakan hijab, baru saat anda berubah status jadi Almarhumah  dan akan menghadap kepada Allah.
Jangan sampai anda mengenakan hijab baru pada saat anda memakai kain kafan.

Jika kita berusaha untuk meraih cintanya Allah, insyaaallah kita akan dimudahkan dalam hal apapun.
Tetep semangat dan jangan berhenti belajar akan agama kita ini.

Berubahlah dan jadilah lebih baik.


 

Mohon maaf 
bila ada salah kata yang menyinggung perasaan, yang salah datangnya dari diri pribadi dan syetan laknatullah dan semua yang benar hanya datang nya dari Allah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh

Silahkan jika ada saran,kritik,masukan, atau pertanyaan.