بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Assalamua'laikum
warahmatullahi wabarokaatuh.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah
memberikan kita berbagai nikmat dimana air di lautan pun tak kan cukup jika
kita ingin menulis nikmat-Nya itu. khususnya nikmat islam yang Allah
berikan kepada diri-diri kita dan nikmat iman yang masih ada dalam hati kita.
Salam serta shalawat kepada junjungan Nabi kita Muhammad Shalallahu
'Alaihi wasallam yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah hingga kepada
zaman Islamiyah dimana seperti yang kita rasakan sekarang ini.
Para pembaca muslimah yang dirahmati
oleh Allah subahanahu wa ta'ala, kali ini kita akan membahas sedikit tentang
masalah hijab.
Dan
tentunya tulisan ini teruntuk semua saudari muslimah yang berniat
memakai hijab, yang masih ragu-ragu, atau pun yang belum memakai hijbab
sama sekali serta untuk muslimah yang maasyalaAllah Alhamdulillah sudah
memakai hijab agar lebih termotivasi dan istiqomah dalam mengenakannya. (tidak
melepasnya lagi).Terlebih kepada diri pribadi.
sebelum lebih jauh, First, kita harus tau, apa sih
pengertian hijab itu? lalu apa bedanya antara hijab dengan jilbab? let's check
it out.
para mufassir memaknai jilbab dengan banyak makna. ada yang
memaknai jilbab sebagai pakaian luar, kemudian menggunakan pakaian lagi dengan
menutup seluruh tubuh, ada yang sampai menutupi semuanya hingga yang terlihat
hanya matanya. ada juga yang memaknai jilbab sebagai khimar atau kerudung.
kemudian kalau hijab, dalam Al-qur'an di maknai sebagai
konsep pembatas ruang, sebagai pembatas antara ahli surga dan ahli neraka.
Hijab juga di artikan sebagai pembatas atau pembeda ruang antara laki-laki dan
perempuan.
Nah dengan mengetahui makna asli Hijab
dan Jilbab sesuai yang disebutkan dalam Al-qur'an beserta tafsirnya, maka Hijab
dan Jilbab adalah dua konsep yang sedikit berbeda.
Namun saat ini secara realitas dan sosiologis, kita menggap
konsep hijab dan jilbab adalah dua hal yang sama, mengingat salah satu
pengertian dari hijab adalah menghalangi atau menutupi . lagipula kata hijab
sudah memaknai secara keseluruhan.
Dalam pandangan masyarakat, mereka
berpendapat bahwa hijab harus disesuaikan dengan akhlak dan wanita yang
berhijab adalah identik tatakrama yang baik, santun, anggun dan kalem serta
predikat keshalihan lainnya.
Akhirnya jika wanita melakukan suatu perbuatan yang
kontradiktif dengan hijabnya itu, seketika penilaian masyarakat menjadi
negatif, selanjutnya dengan membawa-bawa kain penutupnya itu. "dia
berhijab tapi kok masih gitu".
Akibtnya, muslimah yang tak berhijab pun memilih untuk tetap
pada pendiriannya, dengan pemikiran yang sangat sederhana sekali
>"biarlah saya tidak berhijab dulu, yang penting adalah akhlak saya
baik" ataukah
"yah adalah saatnya nanti saya berhijab".
atau kah
"yang penting hati dulu yang dihijabi"
Akhlak bukanlah suatu alasan untuk tidak berhijab.
terlebih lagi hijab dan Akhlak adalah dua hal yang berbeda. Berjilbab adalah
murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslimah yang telah baligh tanpa
memandang akhlaqnya baik atau buruk, sedangkan akhlaq adalah budi pekerti yang
tergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berhijbab melakukan
dosa atau pelanggaran, itu bukan karna jilbabnya namun karna akhlaqnya.
"Yang berjilbab belum tentu berakhlaq mulia,
namun yang berakhlaq mulia pasti berjilbab"
Saya sangat setuju dengan kata-kata tersebut, bukan berarti
saya mendukung para wanita yang berjilbab untuk tidak berakhlaq mulia ya :D
cuman sudah menjadi rahasia umum pemikiran manusia-manusia yang merasa dirinya
sudah paling benar bahwa jikala melihat wanita yang berjilbab namun akhlaqnya
kurang baik beranggapan wanita itu menggunakan jilbabnya untuk menutupi kelakuan
buruknya. Na'uzubillah...
Kemudian adakah hati yang dihijabi? Lalu bagaimana kita akan
mendapat petunjuk/hidayah dari Allah jika hati kita tutupi? Ini adalah
pemahaman yang umum dan salah kaprah.
Tak sedikit yang berharap hidayah itu datang menyapa. Namun
terkadang kita hanya tidak sadar untuk menyikapi hidayah itu. Sebenarnya hidup
kita itu dipenuhi oleh berbagai macam sinyal-sinyal hidayah. Allah datangkan
sinyal-sinyal itu dalam berbagai macam cara, hanya saja kita saja yang menolak
hidayah itu. Contoh sederhananya gini, ceramah-ceramah pendek dalam instagram,
wa, berada di tengah-tengah teman atau saudara kita yang berhijab yang apabila
kita melepas jilbab di tempat yang tak sesuai pun ia tak enggan dalam menegur
dan menasehati. hidayah dalam perihal sholat: rumah berada dekat dengan mesjid
namun tetap saja ia enggan dalam melaksanakan sholat, nyaringnya adzan setiap
masuk waktu sholat.
kemudian melihat jenazah yang melewati kita, melihat
semangat para ulama.
Lalu hidayah yang bagaimana lagi yang kita cari? Apakah
semua itu bukan hidayah? inilah yang saya maksud menolak hidayah. bahkan tak
perlu lagi mengeluarkan keringat dalam mencarinya. tinggal bagaimana kita
menangkap sinyal hidayah itu. Ibarat cahaya, cahaya akan masuk ke dalam rumah
jika jendelanya di buka.
perintah berhijab ini sudah ada dalam Al-qur'an, jadi jelas
apabila kita menunda-nunda dalam memakai hijab, berarti kesimpulannya secara
tidak langsung kita sudah menolak Al-qur'an. Berikut penjelasannya 🔻
Al-ahzab: 59
" wahai Nabi, katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin,
hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali dan karena itu mereka tidak
diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha pengampun."
jadi jelas, jilbab itu murni langsung perintah dari Allah.
Tak Jarang pula yang bilang gini,
" saya memilih untuk berjilbab"
atau " Artis Vebby Palwinta memilih untuk berjilbab yah
sekarang"
ya Allah ya Kareem,, sekali lagi jilbab bukanlah suatu
pilihan mau pake atau tidak, ini wajib perintah Allah. terus terang sih
rasanya risih mendengar kata "memilih" itu...
kitanya aja yang ngajinya belum sampai pada surah Al-ahzab
di atas...
Saudariku, Allah menurunkan perintah untuk berhijab
semata-mata karena ada hikmah di balik itu. Allah menginginkan supaya kaum
wanita mendapatkan kemuliaan semata.
sering saya dengar, Islam mengekang wanitanya dalam
berhijab. tidak, itu tidak benar. Bahkan islam sangat memuliakan kaum wanita
layaknya seorang ratu.
Misalnya jika seseorang menemukan dua buah permen di jalan,
permen I adalah permen yang masih terbungkus dan tertutup rapat tanpa ada
celah. Permen II adalah permen yang sudah terbuka dikerumuni oleh semut.
tentunya tanpa berfikir lagi, ia akan memilih permen I yang masih tersegel.
lagian siapa sih gitu loh yang mau makan permen yang dikerumuni banyak
semut.
Perlu kita sadari satu hal, keadaan kita yang sering
beramal sholeh, mengerjakan sholat tanpa bolong-bolong, selalu membantu
sesama, bersedekah, juga terkadang sudah mengaku berbakti kepada orang tua
kita, patuh kepadanya, atau mengirimkan uang setiap bulannya, adalah seperti
seseorang yang membawa kendi yang penuh dengan air, tapi sayangnya kendi itu
memiliki satu saja lubang yang membuat air itu terbuang sia-sia... begitulah
kira-kira ibarat seorang wanita yang sia-sia pengamalannya, kenapa? karena ia
tidak berhijab. Mungkin sering kita dengar atau membacanya bahwa di akhirat
nanti yang paling banyak dari penghuni neraka adalah wanita. nah mungkin itulah
alasannya. Tsumma naudzubillah mudah-mudahan kita tidak termasuk di
dalamnya....
Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengatakan
"hatiku masih belum mantap untuk berjilbab, jika hatiku sudah mantap aku akan memakainya, lagi pula aku masih mengerjakan sholat, puasa, dan semua perintah wajib kok, Iman kan letaknya di hati, yang tau hati seseorang hanya aku dan Allah, aku kan masih muda, hijab bikin rambut rontok, berhijab bikin gerah panas pula, hijab itu ribet. Hijbab itu pilihan, siapa yang mau make, ya silahkan, yang penting akhlak dulu yang bagus, "sepertinya Allah belum memberikan hidayah untuk segera berhijab... dan alasan lainnya...."
Hijab tak perlu menunggu kesiapan ataupun hidayah. Buang
jauh-jauh semua statement itu yah, semua udah dijelasin.
Mulai sekarang untuk teman-teman muslimah yang saya cintai dan
perhatikan karena Allah, saya jadikan anda saudari dalam kehidupan dunia dan
akherat, saya mohon kepada anda dan semoga Allah menyaksikan ini,
ayo hadirkan niat dalam diri kita untuk mengenakan kain yang mulia itu
secara bertahap.. Niatkan karena Allah bukan karena teman kita, bukan karena
akhlak yang masih buruk, melainkan karena murni perintah dari Allah.
jangan sampai anda kenakan hijab, baru saat anda berubah
status jadi Almarhumah dan akan menghadap kepada Allah.
Jangan sampai anda mengenakan hijab baru pada saat anda
memakai kain kafan.
Jika kita berusaha untuk meraih cintanya Allah, insyaaallah
kita akan dimudahkan dalam hal apapun.
Tetep semangat dan jangan berhenti belajar akan agama kita
ini.
Berubahlah dan jadilah lebih baik.
Mohon maaf
bila ada salah kata yang menyinggung perasaan, yang salah datangnya dari diri pribadi dan syetan laknatullah dan semua yang benar hanya datang nya dari Allah.
bila ada salah kata yang menyinggung perasaan, yang salah datangnya dari diri pribadi dan syetan laknatullah dan semua yang benar hanya datang nya dari Allah.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh
Silahkan jika ada saran,kritik,masukan, atau pertanyaan.
